Apa itu koksidiosis?
Eimeria spp. adalah salah satu protozoa saluran pencernaan yang susah untuk dikendalikan di industri peternakan. Penyakit ini dilaporkan mampu mempengaruhi pertumbuhan, produktivitas serta tingkat morbiditas dan mortalitas ternak. Sejauh ini, lebih dari 20 spesies Eimeria yang telah diidentifikasi pada ternak dan 13 diantaranya menyerang sapi, yaitu E. alabamensis, E. auburnensis. E. bovis, E. brasiliensis, E. bukidnonensis, E. canadensis, E. cylindrica, E. ellipsoidalis, E. illinoisensis, E. pellita, E. subspherica, E. wyomingensis dan E. zuernii. Adapun spesies Eimeria spp. pada sapi yang memiliki tingkat patogenitas tinggi adalah E. bovis dan E. zuernii karena kedua spesies tersebut dapat menyebabkan kematian, terutama pada ternak muda (Ekaswati dan Wardhana, 2019).
Coccidiosis yang umum menyerang ternak sapi adalah dari jenis Eimeria sp. Meskipun terdapat bentuk ookista lain dari Coccidia sp., yaitu Isospora sp., namun kejadian coccidiosis pada sapi yang disebabkan oleh Isospora sp. jarang dilaporkan oleh para peneliti (Zefanya et al., 2021). 4 Spesies patogen dari Eimeria spp. dengan tingkat patogenitas tinggi dan mampu menyebabkan kematian pada sapi khususnya usia muda adalah Eimeria zuernii dan Eimeria bovis. Sapi dewasa lebih tahan terhadap infeksi Eimeria spp. karena memiliki imunitas (tingkat kekebalan) yang cukup dan sistem kekebalan akan mudah terbentuk ketika terjadi infeksi. Koksidiosis menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan pada ternak dan menimbulkan kerugian ekonomi dengan kebanyakan mempunyai gejala yang bersifat subklinis.
Diagnosa Klinis
Diagnosa koksidiosis dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni diagnosa klinis dan diagnosa laboratorium. Diagnosa klinis berdasarkan gejala klinis biasanya sapi mengalami diare hingga feses bercampur darah, sedangkan diagnosa laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan feses untuk melihat morfolgi telur dan menghitug jumlah telur, uji elisa, uji PCR (Polymerase Chain Reaction), LAMP (Loop-mediated Isothermal Amplification), dan pemeriksaan histopatologis.
Penentuan diagnosa koksidiosis seekor hewan atau sekelompok hewan dapat dibuktikan, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan feses, yaitu menemukan telur Eimeria sp. dalam feses dengan menggunakan metode sentrifus. Pada hewan yang berkelompok, diagnosa juga perlu diperkuat dengan kerusakan sistem digestivus salah satu hewan yang mati dengan melalui pemeriksaan postmortem. Kendala yang ditemukan pada pemeriksaan feses untuk mendeteksi telur protozoa adalah durasi infeksi Eimeria sp. karena telur baru dapat ditemukan 7 hari setelah hewan terinfeksi. Uji serologi dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi dalam serum menggunakan ELISA. Uji ini dapat mendeteksi adanya infeksi awal pada minggu ke 2 sampai minggu ke 4 setelah infeksi dengan sensitivitas 91% dan spesifisitas 88%.
Differensial Diagnosa
Differensial diagnosa pada kasus koksidiosis meliputi:
- Bovine Viral Diarrhea Virus (BVDV)
- Salmonellosis
- Winter Dysentry (WD)
- Cryptosporidiosis 18
- Penyakit parasit pencernaan
- Asidiosis
- Toksisitas arsenic
Pengobatan
Meskipun kebanyakan kasus koksidiosis terjadi pada hewan muda, kejadian pada hewan yang lebih tua juga sering diitemukan. Pengobatan koksidiosis bisa dilakukan dengan mengunakan Amprolium HCl (AMPROLIN‐ 300 WS) dengan dosis 1 g/30 kg berat badan selama 5 hari, atau 1 g/60 kg berat badan selama 21 hari. Jenis pengobatan yang lain dengan menggunakan Toltrazuril (INTRACOX ORAL) dengan dosis 6 ml/10 kg berat badan sekali pemberian 15 mg/kg berat badan.
DAFTAR PUSTAKA
Ekaswati, F. dan Wardhana, A. H. (2019). Penyakit koksidiosis pada sapi di Indonesia dan perkembangan teknik diagnosisnya. WARTOZOA, 29(3) : 133- 144.
Sufi, I. M., Cahyaningsih, U. dan Sudarnika, E. (2016). Prevalensi dan faktor risiko koksidiosis pada sapi perah di Kabupaten Bandung. Jurnal Kedokteran Hewan, 10(2) : 195-199.
Zefanya, F., Apsari, I. A. P. dan Oka, I. B. M. (2021). Prevalensi dan identifikasi protozoa Eimeria sp., dan Isospora sp., intestinal sapi Bali di dataran tinggi dan dataran rendah basah. Indonesia Medicus Veterinus, 10(2) : 180- 188.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar